Stres dan depresi sering kali kita salah paham mengenai kedua kata tersebut. Padahal, kedua hal ini mempunyai perbedaan yang sangat mendasar. Cara
kerja dan penanggulangannya pun berbeda. Jika tidak ditangani dengan benar, depresi bisa membahayakan kesehatan
jiwa, jasmani, hingga nyawa. Jadi, penting bagi kita untuk mengetahui hal tersebut.
Apa bedanya stres dan depresi?
Stres
biasanya dimulai dari rasa kewalahan akibat banyaknya tekanan dari luar dan
dalam diri seseorang yang telah berlangsung cukup lama. Stres bisa mendorong
Anda untuk semakin bersemangat menghadapi tantangan, tapi juga bisa mematahkan
semangat. Ini karena setiap orang memiliki mekanisme yang berbeda-beda
dalam menghadapi stres.
Ketika Anda
dilanda stres, tubuh Anda membaca adanya serangan atau ancaman. Sebagai
mekanisme perlindungan diri, tubuh akan memproduksi berbagai hormon dan zat-zat
kimia seperti adrenalin, kortisol, dan norepinefrin.
Akibatnya, Anda akan
merasakan dorongan energi dan peningkatan konsentrasi supaya Anda bisa merespon
sumber tekanan secara efektif. Tubuh juga akan secara otomatis mematikan
fungsi-fungsi tubuh yang sedang tidak diperlukan, misalnya pencernaan. Namun,
apabila stres muncul pada saat-saat yang tidak diinginkan, darah akan mengalir
ke bagian-bagian tubuh yang berguna untuk merespon secara fisik seperti kaki
dan tangan sehingga fungsi otak menurun. Inilah sebabnya banyak orang yang
justru sulit berpikir jernih saat diserang stres.
Berbeda
dengan stres, depresi adalah sebuah penyakit mental yang berdampak buruk pada
suasana hati, perasaan, stamina, selera makan, pola tidur, dan tingkat
konsentrasi penderitanya. Depresi bukan tanda ketidakbahagiaan atau cacat
karakter. Depresi bukanlah keadaan yang wajar ditemui seperti stres atau panik.
Orang yang terserang depresi biasanya akan merasa hilang semangat atau
motivasi, terus-menerus merasa sedih dan gagal, dan mudah lelah. Kondisi ini
bisa berlangsung selama enam bulan atau lebih. Maka, orang yang menderita
depresi biasanya jadi sulit menjalani kegiatan sehari-sehari seperti bekerja,
makan, bersosialisasi, belajar, atau berkendara secara normal. Siapa pun bisa
terserang depresi, terutama jika ada riwayat depresi dalam keluarga terdekat
Anda. Penelitian juga menunjukkan bahwa wanita lebih berisiko terserang depresi
daripada pria.
Gejala stres
Stres bisa
terjadi pada siapa saja, termasuk anak-anak usia sekolah. Perhatikan
gejala-gejala depresi berikut ini untuk mencari tahu apakah Anda mengalami
stres atau depresi.
2) Gangguan daya ingat
3) Gangguan berkonsentrasi
4) Perubahan pola makan
5) Mudah marah dan tersinggung
6) Sering gugup atau gelisah
7) Merasa kewalahan dengan pekerjaan di sekolah atau kantor
8) Merasa takut tidak bisa menyelesaikan tugas-tugas dengan baik
Gejala depresi
Tanda-tanda
depresi jauh lebih rumit daripada gejala stres. Kemunculannya pun bisa bertahap
sehingga sulit untuk benar-benar menyadari kapan depresi pertama kali
menyerang. Berikut adalah berbagai gejala depresi yang biasanya terjadi.
· 1) Menarik diri dari lingkungan sosial dan
keluarga.
2) Merasa sedih seolah-olah tidak ada harapan lagi.
3) Hilang semangat, motivasi, energi, dan stamina.
4) Sulit mengambil keputusan.
5) Makan lebih sedikit atau lebih banyak dari biasanya.
6) Tidur lebih sebentar atau lama dari biasanya.
7) Sulit berkonsentrasi.
8) Sulit mengingat-ingat.
9) Merasa bersalah, gagal, dan sendirian.
10) Berpikiran negatif secara terus-menerus.
11) Mudah kecewa, marah, dan tersinggung.
12) Sulit menjalani kegiatan sehari-hari.
13) Hilang minat pada hal-hal yang biasanya dinikmati.
14) Adanya pikiran untuk bunuh diri.
2) Merasa sedih seolah-olah tidak ada harapan lagi.
3) Hilang semangat, motivasi, energi, dan stamina.
4) Sulit mengambil keputusan.
5) Makan lebih sedikit atau lebih banyak dari biasanya.
6) Tidur lebih sebentar atau lama dari biasanya.
7) Sulit berkonsentrasi.
8) Sulit mengingat-ingat.
9) Merasa bersalah, gagal, dan sendirian.
10) Berpikiran negatif secara terus-menerus.
11) Mudah kecewa, marah, dan tersinggung.
12) Sulit menjalani kegiatan sehari-hari.
13) Hilang minat pada hal-hal yang biasanya dinikmati.
14) Adanya pikiran untuk bunuh diri.
Cara menangani depresi
Jika ternyata
Anda mengalami depresi, Anda harus segera mengambil tindakan. Depresi merupakan
penyakit yang bisa disembuhkan kalau penanganannya tepat. Namun,
depresi tidak bisa disembuhkan oleh Anda seorang diri. Anda membutuhkan
bantuan orang lain. Cobalah untuk menjalani sesi konseling bersama psikolog
atau psikiater. Anda juga mungkin akan dirujuk untuk menjalani berbagai terapi
seperti Terapi Kognitif Perilaku (CBT) dan psikoterapi.
Untuk
membantu Anda mengatasi kegelisahan atau tenggelam dalam kesedihan yang
berlarut-larut, pengobatan dengan antidepresan dan obat penenang bisa menjadi
solusinya. Obat tidur juga mungkin ditawarkan bagi Anda yang mengalami insomnia
atau sulit tidur. Ingatlah bahwa terserang depresi bukan kesalahan Anda, tapi
Anda bisa melawannya. Ceritakan situasi Anda dengan jujur pada orang-orang
terdekat Anda agar mereka bisa mendukung dan membantu Anda sembuh lebih cepat.
Apa bahayanya jika depresi tidak
ditangani?
Jangan
menyepelekan atau membiarkan depresi begitu saja karena dampaknya sangat
berbahaya. Berbagai studi telah menemukan hubungan yang sangat erat antara
depresi dengan penyakit hati dan gagal jantung. Selain itu, penelitian juga
menunjukkan bahwa orang yang menderita depresi memiliki kemungkinan 58% lebih
banyak terserang obesitas akibat perubahan pola makan yang drastis dan kurang
berolahraga. Jika tidak ditangani secara serius, depresi di usia muda bisa
menurunkan kemampuan otak serta meningkatkan risiko Alzheimer dan stroke.
Dalam
beberapa kasus, mereka yang sudah terserang depresi berat cenderung mencoba
untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri. Maka, sudah saatnya Anda menanggapi
stres dan depresi dengan serius. Kenali perbedaannya dan segera tangani stres
dan depresi sebelum terlambat.
Ingin mendownload klik Disini
Ingin mendownload klik Disini

2 Komentar
Menirut sy . sy benar2 suka dan sangat membantu orang orang dan sangat waoooo
BalasHapusTrimakasi
Hapus